Frasa “Profil dan Agama” dan Bentuk-bentuk Bahasa yang “Beracun”
Agaknya tidak banyak orang yang menyadari bahwa selama dua dasawarsa terakhir bahkan lebih media massa arus utama telah terpapar oleh praktik umpan-klik, yang merupakan strategi andalan dunia situs-web untuk memerangkap pengunjung agar mengeklik judul dan konten yang mereka sajikan. Dampaknya, publik sering terbanjiri informasi, termasuk berita, yang bahasa dan logikanya “beracun” (bermasalah!).
Sebagaimana diketahui, umpan-klik (clickbait) merupakan istilah yang merujuk ke judul-judul dan konten sensasional yang muncul di dunia situs web, termasuk situs berita, demi menarik perhatian dan mendorong pengunjung agar mengeklik tautan yang ditampilkan. Judul-judul dan konten yang sensasional—sekaligus kerap menyesatkan—itu banyak yang mengidap “penyakit” tunaakurasi, tunabahasa, dan tunalogika bahkan tidak jarang tunaetika, demi menangguk keuntungan (terutama dari iklan).
Tidak sulit menemukan judul dan isi berita yang mengandung frasa-frasa “beracun”. Beberapa contohnya: (1) Profil dan Agama Thom Haye, Calon Pemain Indonesia… (https://www.tribunnews.com/ superskor); (2) "Profil dan Agama Veddriq Leonardo, Si 'Spiderman' …” (https://www.suara.com/sport/); (3) Biodata dan Agama Lamine Yamal, Bocah Ajaib Barcelona .... (https://bola.okezone.com).
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI [VI Daring]) menyodorkan empat makna untuk kata (lema!) profil. Keempat makna tersebut ialah (1) pandangan dari samping (tentang wajah orang); (2) lukisan (gambar) orang dari samping; sketsa biografis; (3) penampang (tanah, gunung, dan sebagainya); dan (4) grafik atau ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus.
Terlihat bahwa makna yang selaras dengan judul-judul di atas ialah makna ke-4. Cambrige Dictionary menyodorkan makna kata profil yang jika diindonesiakan berbunyi: (1) deskripsi singkat tentang kehidupan, pekerjaan, karakter seseorang, dll; (2) informasi perihal kehidupan seseorang, pekerjaan, minat, dsb. (alih bahasa oleh penulis).
Sementara untuk kata biodata, Lautenschlager dalam Reexamining the component stability of Owen's biographical questionnaire" (2001) pada Journal of Applied Psychology. 72 (1): 149–152. doi:10.1037/ 0021-9010.72.1.149, sebagaimana dikutip oleh Wikipedia, mendefinisikan biodata sebagai “… jawaban atas pertanyaan faktual tentang kehidupan dan pengalaman kerja, serta hal yang melibatkan opini, nilai, kepercayaan, dan sikap yang mencerminkan perspektif historis”.
Kajian semantik atas makna-makna tersebut akan menunjukkan bahwa kata-kata seperti profil dan biodata pada kedua frasa itu tergolong bentuk hipernim, yakni kata umum yang gugus maknanya lebih luas dan meliputi makna kata-kata yang lebih khusus seperti agama. Sementara kata agama tergolong hiponim, yakni kata khusus yang maknanya tercakup dalam bentuk hipernimnya. Nalarnya, dalam memerikan sesuatu, jika kata-kata seperti profil atau biodata telah digunakan, kata agama tidak diperlukan lagi.
Dari segi sintaksis, frasa profil dan agama maupun biodata dan agama tergolong frasa koordinatif atau lengkapnya: frasa endosentris koordinatif. Menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI [Edisi IV; 2017] ), frasa koordinatif adalah frasa yang unsur-unsurnya berkedudukan setara atau sederajat dan dapat saling menggantikan. Unsur-unsur tersebut dapat dihubungkan dengan konjungsi "dan", "atau", "tetapi ", dan sebagainya.
Definisi di atas terlihat bahwa kata-kata atau unsur frasa yang ada di sana berkedudukan setara. Namun dari segi logika, unsur-unsur tersebut tidaklah setara karena kata atau unsur pertama tergolong bentuk hipernim sementara unsur kedua tergolong hiponim.
Selanjutnya, hasil pengamatan yang seksama atas bentuk bahasa dan proses pembentukannya menunjukkan bahwa frasa-frasa tersebut mengidap gejala pleonasme yang berpilin-pilin bagai kelindan dengan gejala sesat nalar. Kalaupun frasa-frasa itu dimaksudkan sebagai majas, kata agama juga gagal mengisbatkan makna profil.
Akan tersingkap pula bahwa penghadiran kata agama pada judul-judul berita atau jenis tulisan lain—yang kerap kehilangan penjelasan yang nyambung dalam tubuh karangan— juga merupakan model komunikasi yang manipulatif. Mengapa?
Di Indonesia dan banyak negara kata agama mudah menyedot perhatian orang. Sayangnya dunia media pers daring, yang memiliki kewajiban menjaga muruah jurnalisme, kerap terperangkap menjadi media berita yang haus akan kehadiran pengunjung dalam jumlah besar. Praktik umpan-klik pun menjadi andalan.
Kini terlihat dengan gamblang bahwa penghadiran kata agama pada judul dan konten berita seperti di atas (juga pada jenis tulisan lain) tidak ada sangkut-pautnya dengan (informasi tentang) agama dan keberagamaan seseorang (para atlet!), apalagi dengan prestasi mereka. Alih-alih, ia lebih merupakan eksploitasi sekaligus komodifikasi (kata) agama demi menangguk keuntungan melalui strategi yang melahirkan produk informasi yang dikemas dalam bentuk-bentuk kebahasaaan dan penalaran yang “beracun”. (wip)
***
**Editor penyuka bahasa/guru Jurnalisme dan Penulisan Populer; saat ini menjadi anggota Majelis Etik dan Peradilan Organisasi AJI Indonesia.