Menavigasi Masa Depan Pendidikan Jurnalisme Indonesia
Photo by Freepik.com
Andreas Ryan Sanjaya
Pelajar Doktoral bidang Jurnalisme di Queensland University of Technology (QUT), Australia
Beberapa tahun terakhir, jurnalisme—seperti banyak sektor lainnya—tergagap menyesuaikan diri dengan laju pesat teknologi. Sejak kemunculan Generative AI, perubahan teknis dan etis yang dulu tak pernah terbayangkan kini menjadi tantangan nyata. Dunia belum selesai beradaptasi dengan Gen AI, bayang-bayang teknologi baru sudah mengintai. Di tengah ketidakpastian situasi ini, mau ke mana arah pendidikan jurnalisme dan siapa saja penentu arahnya?
Artikel pendek ini bermaksud menyumbang bahan refleksi bagi siapapun yang berada di kapal yang sama: kampus, organisasi profesi, industri media, lembaga pelatihan, serta masyarakat sipil. Refleksi ini berangkat dari laporan riset di Belanda yang melahirkan empat skenario pendidikan jurnalisme pada 2030 (Severijnen & de Haan, 2024). Meski riset ini berakar di Barat, tantangan yang dihadapi universal dan memungkinkan kita belajar dari sana.
Empat Skenario
Judul laporan riset tersebut memang menunjuk tahun 2030, tapi para penulisnya tidak bermaksud membuat ramalan masa depan. Tujuan mereka adalah memetakan beberapa kemungkinan arah pendidikan jurnalisme sekaligus mendorong diskusi kritis. Severijnen and de Haan (2024) menggunakan metode scenario planning dengan melibatkan 50 ahli dari bidang jurnalisme dan pendidikan di Belanda dalam delapan sesi diskusi.
Dengan menganalisis jawaban atas dua pertanyaan kunci “jenis jurnalisme apa yang diajarkan?” dan “siapa yang menentukan arah pembelajaran?”, mereka melahirkan empat skenario: Back to Basics, Mix & Match, Creators United, dan Learns for Life.
Skenario Back to Basics menggambarkan pendidikan jurnalisme yang konservatif, dengan mengedepankan prinsip-prinsip klasik seperti objektivitas, verifikasi, dan peran jurnalis dan redaksi media sebagai gatekeeper. Kurikulumnya dikendalikan oleh kampus, bersifat formal, stabil, dan relatif bertahan terhadap perubahan tren. Karena menekankan stabilitas dan standar profesional yang mapan, teknologi dipandang sebagai alat bantu dan bukan pusat dari proses belajar.
Berbeda dari itu, skenario Mix & Match menawarkan pendekatan yang lebih personal dan fleksibel. Pendekatan ini didorong oleh dunia yang makin kompleks dan menjadi generalis saja dianggap tidak cukup. Spesialisasi adalah cara untuk tetap relevan dan kompetitif. Spesialisasi ini berkaitan erat dengan keterampilan teknologi, seperti jurnalisme data atau jurnalisme komputasional, yang diperoleh melalui kombinasi pendidikan formal, kursus, dan pelatihan dari industri.
Sementara itu, skenario Creators United memperluas konsep jurnalisme sebagai praktik yang lebih partisipatif dan kolaboratif. Pendidikan diarahkan untuk membentuk jurnalis yang kreatif, kolaboratif, berperspektif kewirausahaan dengan tetap memiliki keterampilan klasik seperti melakukan riset, wawancara, dan produksi media. Proses pembelajaran menjadi lebih kolaboratif antara kampus, industri, dan organisasi jurnalis.
Skenario yang paling terbuka dan bahkan radikal adalah Learn for Life sebab meniadakan institusi pendidikan formal dalam proses pembelajaran. Proses belajar berlangsung secara mandiri, tidak terikat pada kampus atau ijazah, dan terjadi sepanjang hayat. Dalam skenario ini, jurnalis membangun pengetahuan dan keterampilannya dari pengalaman, jaringan, serta akses terbuka terhadap sumber belajar yang tersebar di berbagai tempat.
Keempat skenario ini merepresentasikan berbagai kemungkinan arah pendidikan jurnalisme di masa depan. Mereka membuka ruang refleksi bagi pendidik, praktisi, dan pengambil kebijakan untuk mempertimbangkan ulang model belajar yang relevan untuk menghadapi situasi tidak pasti sebagaimana digambarkan di awal tulisan.
Refleksi untuk Indonesia
Lantas bagaimana dengan arah pendidikan jurnalisme di Indonesia? Tentu butuh riset yang menyeluruh untuk menjawab pertanyaan tersebut. Riset ini perlu melibatkan semua aktor pendidik (antara lain kampus, organisasi jurnalis, perusahaan media, lembaga pelatihan jurnalistik) dan jurnalis atau calon jurnalis sendiri sebagai subjek pembelajar. Tulisan ini setidaknya bermaksud menyumbang identifikasi awal persoalan dan memprovokasi diadakannya riset tersebut.
Berdasarkan penelusuran awal terhadap kurikulum beberapa program studi jurnalistik, pendidikan formal jurnalisme Indonesia cenderung berada pada skenario Back to Basics, dengan beberapa elemen yang sejalan dengan skenario Creators United. Indikasi awal ini terlihat dari materi kuliah yang fokus pada keterampilan dasar, kuliah tamu dari praktisi industri, dan kewajiban magang di industri media atau organisasi terkait. Sebagian kecil kampus tampak mengeksplorasi Learns for Life melalui pembelajaran berbasis proyek dan penekanan pada kemampuan adaptasi. Namun, observasi awal ini masih bersifat tentatif dan perlu didalami melalui penelitian yang lebih menyeluruh.
Selain itu, peran organisasi jurnalis serta lembaga penelitian dan pelatihan yang memiliki program peningkatan kapasitas, seperti jurnalisme data, perspektif gender, serta keamanan digital, membuat arah pendidikan jurnalisme juga masuk ke skenario Mix & Match. Hal ini mengindikasikan bahwa skenario tersebut bersifat universal dan relevan untuk konteks di Indonesia, meski berakar dari studi di Belanda.
Bagaimanapun, beragam skenario tadi dihadapkan pada situasi yang penuh tantangan. Misalnya, penurunan minat studi jurnalistik di kampus yang sejalan dengan penurunan minat orang muda untuk berkarier sebagai jurnalis, maraknya dis/misinformasi di media yang sejalan dengan penurunan tingkat kepercayaan terhadap media, meningkatnya fenomena penghindaran berita (news avoidence), senjakala industri media, serta kemajuan teknologi yang kian tak terbendung.
Keempat skenario dari Severijnen dan de Haan bukanlah jawaban final, melainkan undangan untuk menavigasi masa depan pendidikan jurnalisme secara kolektif. Mengingat kompleksitas persoalan dan keberagaman aktor, arah pendidikan tidak dapat dirumuskan oleh satu pihak saja. Maka, kita butuh riset kolaboratif lintas aktor—kampus, industri, organisasi profesi, masyarakat sipil, dan pemerintah—untuk membangun visi bersama. Dengan cara itu, navigasi arah pendidikan jurnalisme diharapkan jadi lebih tangguh dan adaptif di era disrupsi teknologi ini.
Referensi
Severijnen, M., & de Haan, Y. (2024). Educating for a Changing Media Landscape: Four Scenarios for Journalism Education in 2030. Journalism Studies, 25(16), 1931-1948. https://doi.org/10.1080/1461670X.2024.2406814