Skip to main content
Brand Journalism Training

Brand Journalism Training

Training Disiapkan untuk Institusi Bisnis, Lembaga Publik, Lembaga Non Profit, Penulis dan Kreator Konten Digital

Dulunya, ketika sebuah perusahaan atau lembaga publik maupun lembaga non profit yang bekerja untuk masyarakat, ingin menyampaikan informasi penting ke publik, mereka akan mengeluarkan rilis dan meminta ‘public relations representative’ untuk menghubungi pers agar dapat memberitakan hal tersebut. Namun sekarang, banyak perusahaan tidak menggunakan cara itu lagi.

Sekarang, berbagai perusahaan bisnis membuat “newsroom” mereka sendiri, seperti halnya yang dilakukan McDonald’s dan Coca-Cola, untuk memproduksi saluran berita dan produk jurnalistik mereka sendiri. Cara ini dikenal dengan Jurnalisme berbasis Merek atau Brand Journalism.

Brand Journalism diprediksi akan menjadi alat strategi pemasaran yang booming ke depan. Ini mendorong pengelola brand, content writer, dan content creator yang bekerja untuk sebuah institusi profit dan non-profit harus berpikir seperti seorang jurnalis.

Program training ini dilakukan melalui pendekatan di mana sebuah institusi profit dan non profit menghasilkan konten berita yang berkualitas dan mengedukasi, serta dapat terdistribusi dengan baik untuk memperkuat brand image perusahaan dan memperkuat posisinya di mata masyarakat.


Oleh karena itu, Indonesian Institute of Journalism (IIJ) menghadirkan Program Brand Journalism untuk para pengelola brand, content writer, content creator dan masyarakat umum yang ingin meningkatkan literasi jurnalismenya. Kelas ini diisi oleh sejumlah jurnalis dan praktisi yang berpengalaman di bidangnya. 

Pentingnya Brand Journalism

"Kerangka Brand Journalism adalah kebijakan editorial yang bisa membantu mendefinisikan karakter sebuah merek atau perusahaan yang khas, serta batasan di mana sebuah cerita tentang merek dibuat". 

--Larry Light, CEO sebuah konsultan pemasaran Arcanture dan mantan kepala pemasaran global McDonalds, dalam tulisannya di Advertising Age (mix.co.id). 

"Semua lembaga komersial dan nirlaba perlu mengelola informasi lembaganya seperti mengelola media massa menggunakan pendekatan komunikasi  brand journalis. Brand journalism sangat baik untuk membangun dan menguatkan brand untuk semakin dikenal publik.

(Harry Surjadi, trainer Brand Journalism IIJ)

 

Kisah Sukses

Microsoft

Menggunakan pendekatan Brand Journalism melalui produksi konten feature, indepth reporting, hingga story telling yang tidak semuanya berhubungan langsung dengan brand mereka. Microsoft mendorong dialog mengenai positive impact dari teknologi dalam perkembangan budaya di masyarakat (sumber: Microsoft.com).

Patagonia

Sebuah perusahaan outdoor clothing dan gear retailer mengembangkan brand journalism dengan menghadirkan berbagai cerita untuk mendorong dialog dengan audience mereka yang pedulu terhadap lingkungan dan pelestarian alam. Salah satu project brand journalism dari Patagonia yang menarik disimak adalah memproduksi Fishpeople, sebuah film tentang bagaimana lautan memengaruhi kehidupan sehari-hari setiap manusia di seluruh dunia.

 

Pendekatan Brand Journalism

Brand Journalism bertujuan meningkatan kapasitas pengelola brand, content writer, dan content creator yang bekerja untuk sebuah institusi profit dan non-profit untuk memaksimalkan kanal media yang dimiliki, media internal maupun eksternal, baik media digital maupun konvensional. 

Media tersebut dipacu untuk menghasilkan konten-konten berita berkualitas dan mengedukasi, serta dapat terdistribusi dengan baik untuk memperkuat brand image perusahaan dan memperkuat posisinya di mata masyarakat.

Pendekatan brand journalism juga menggunakan produksi kisah atau story telling yang mengusung berbagai aspek penting dalam jurnalisme, seperti informasi yang benar, mengedukasi, memberi manfaat untuk publik, dan menerapkan transparansi.

Peserta 

Dengan gerakan #Semuapahamjurnalisme, IIJ menghadirkan program Brand Journalism untuk kalangan umum seperti lembaga profit (bisnis), lembaga non profit masyarakat, lembaga non profit pemerintah, hingga individu penulis dan kreator konten digital. Peserta kelas maksimal 20 orang per batch.

Waktu

Disesuaikan dengan jumlah peserta.

Trainer 

  • Harry Surjadi, jurnalis dan penulis lepas, trainer Brand Journalism IIJ
  • Jurnalis dan editor di sejumlah media massa

 

PENDAFTARAN

Pendaftaran kelas dapat menghubungi