Skip to main content
AI

Pro-Kontra ChatGPT: Kawan atau Lawan Bagi Jurnalis?

ChatGPT, salah satu model platform kecerdasan buatan (AI) yang dibuat oleh OpenAI, menggemparkan jagad internet, tak terkecuali awak media. Para jurnalis pun bertanya-tanya, bagaimana AI bakal mengubah cara manusia bekerja dan menulis.

Dilansir Reuters Institute, Francesco Marconi mengkategorikan inovasi AI dalam dekade terakhir menjadi tiga gelombang: otomatisasi, augmentasi, dan generatif.

Selama gelombang pertama, fokus penggunaannya adalah mengotomatiskan berita berbasis data, seperti laporan keuangan, hasil pertandingan olahraga, dan indikator ekonomi. menggunakan teknik pembangkitan bahasa alami. Ada banyak contoh penerbit berita yang mengotomatiskan beberapa konten, termasuk agensi global seperti Reuters, AFP, dan AP, serta outlet yang lebih kecil.

Menurut Marconi, gelombang kedua, augmentasi, datang ketika fokusnya mulai bergeser ke arah peningkatan laporan berita untuk menganalisis kumpulan data besar dan mengungkap tren. Caranya melalui pembelajaran mesin dan pemrosesan bahasa alami. Contohnya dapat ditemukan di surat kabar Argentina La Nación, yang mulai menggunakan AI untuk mendukung tim datanya pada tahun 2019. Mereka kemudian mendirikan lab AI bekerja sama dengan analis data dan pengembang.

Gelombang ketiga adalah yang terjadi saat ini, yakni AI generatif. Gelombang ini didukung oleh model bahasa besar yang mampu menghasilkan teks naratif dalam skala besar. Perkembangan baru ini menawarkan aplikasi untuk jurnalisme yang melampaui laporan otomatis sederhana dan analisis data. 

Hasilnya, sekarang jurnalis dapat meminta chatbot untuk menulis artikel yang lebih panjang dan berimbang tentang suatu subjek atau opini dari sudut pandang tertentu. Kita bahkan bisa meminta AI untuk melakukannya dengan gaya penulis atau publikasi terkenal.

Jadi, penggunaan AI dalam karya jurnalistik di beberapa media massa bukanlah hal baru. Namun selain memperbincangkan apa manfaatnya bagi kerja-kerja jurnalistik, sebagian dari kita juga mempertanyakan tantangannya. Tak sedikit yang meyakini bahwa ChatGPT bisa menjadi ancaman masa depan jurnalisme itu sendiri.

Grup media asal Jerman, Axel Springer, bahkan yakin AI perlahan menggantikan tenaga manusia. Ia sendiri optimistis, otomatisasi dan AI bisa meningkatkan pendapatan surat kabar Jerman Bild dan Die Welt. CEO Mathias Doepfner mengatakan, alat AI seperti ChatGPT bakal menjadi lebih baik dalam "pengumpulan informasi" daripada jurnalis manusia. “Kecerdasan buatan memiliki potensi untuk membuat jurnalisme independen lebih baik dari sebelumnya – atau sekadar menggantikannya,” katanya dalam surat internal kepada para karyawan.

Lalu, bagaimana jurnalis sebaiknya menyikapi kehadiran ChatGPT ini? Sejumlah pakar dan jurnalis senior membagikan pendapatnya mengenai kelebihan sekaligus keterbatasan ChatGPT bagi jurnalis dalam berkarya. Berikut konsekuensi-konsekuensi yang wajib diwaspadai.

ChatGPT dapat membantu menyederhanakan konsep

Dilansir IJNet, direktur penelitian di Data & Society, Jenna Burrell, menyebutkan bahwa salah satu tugas terpenting jurnalis ialah menyederhanakan topik kompleks untuk khalayak umum. Menggunakan model bahasa, ChatGPT memungkinkan jurnalis memasukkan abstrak atau bagian dari artikel akademis ke dalam ChatGPT lalu meminta untuk menyederhanakannya. Tujuannya supaya jurnalis lebih mudah dan cepat memahami sebuah artikel ilmiah sebelum mewawancarai si penulis.

ChatGPT juga berguna untuk jurnalis yang bukan penutur bahasa Inggris, karena memudahkan memahami bahasa Inggris dasar saat “menerjemahkan” karya apa pun ke dalam bentuk yang lebih mendasar.

Membantu membuat daftar pertanyaan untuk wawancara

Jurnalis dapat menggunakan ChatGPT untuk persiapan wawancara, misalnya membuat daftar pertanyaan kepada subyek wawancara. Fitur perangkat lunak ChatGPT membantu membuat lebih banyak pertanyaan dengan meniru model pertanyaan dasar, atau berdasarkan artikel yang pernah ditulis oleh orang yang diwawancarai, bahkan mengembangkan pertanyaan tentang suatu topik.

ChatGPT juga dapat digunakan sebagai copy-editor. Caranya dengan memasukkan artikel untuk review terakhir sebelum dikirim ke editor. Contohnya, kamu bisa meminta ChatGPT untuk mengedit artikel dalam format tertentu seperti “sesuaikan dengan gaya tulisan Associated Press”. Namun, jurnalis tetap harus memeriksa kembali yang dilakukan ChatGPT untuk memastikan tidak ada informasi tambahan yang salah.

Hasilnya tidak selalu bisa dipercaya

Di balik berbagai kelebihannya, jurnalis harus menyadari kelemahan utama ChatGPT: tidak dapat dipercaya. ChatGPT dilatih berdasarkan data yang ditemukan di internet pada tahun 2021, dan menanggapi petunjuk dengan membuat prediksi tentang jawaban yang paling mungkin atas pertanyaan atau permintaan yang diajukan. Dengan menggunakan model ini, terkadang ChatGPT menghasilkan jawaban yang tidak benar secara faktual.

Misalnya, ketika Burell meminta ChatGPT menginformasikan pakar-pakar di bidang ilmu data, platform itu menghasilkan daftar akademisi terkenal yang mempelajari subjek tersebut. Namun, saat pertanyaan dimodifikasi untuk meminta pakar dari Ghana dalam ilmu data, tidak ada nama yang ditampilkan saat diperiksa.

Burrell memperingatkan jurnalis untuk mewaspadai kecenderungan ChatGPT untuk "mengisi kekosongan data". ChatGPT tidak akan menjawab pertanyaan dengan mengatakan tidak tahu jawabannya. Sebaliknya, jika data yang dimilikinya tidak memberikan jawaban, itu hanya akan mengarangnya. Ini bisa menjadi masalah terutama di wilayah di mana internet secara historis tidak memiliki data. “Karena dibutuhkan sedikit dari sana-sini, seringkali dia menghasilkan hasil yang benar-benar salah dan sulit untuk mengetahui kapan itu salah,” kata Burell.

ChatGPT juga memiliki masalah dalam mereplikasi bias yang dibuatnya. Perangkat lunak dibuat menggunakan sejumlah besar data, tetapi alat tersebut tidak dapat “belajar” – hanya dapat mereproduksi dan memuntahkan kembali data yang sudah dimilikinya.

Karena ChatGPT dibangun dengan mengumpulkan sejumlah besar informasi dari internet, informasi yang dikembalikannya akan sama biasnya dengan informasi yang dilatihkan. Saat jurnalis menggunakan ChatGPT, mereka tidak hanya harus memeriksa ulang konten yang disajikan, tetapi juga menjangkau orang lain yang memiliki perspektif berbeda, termasuk mereka yang mungkin menentang bias bawaan ChatGPT.

“ChatGPT menyedot semua yang ada di internet; apa yang Anda dapatkan darinya adalah cerminan dari kemiringan internet secara keseluruhan, ”kata Burell.

Tampak cerdas, namun tidak bisa menggantikan kecerdasan manusia

Editor AI dari Financial Times, Madhumita Murgia, mengakui kecerdasan AI generatif seperti ChatGPT menunjukkan kemampuan bahasa secara natural. Ia sanggup merespons permintaan pengguna saat membuat konten baru tapi tidak memunculkan idenya sendiri. Ia mengumpulkan konten dan data, lalu menghasilkan output baru berdasarkan apa yang dilatih kepadanya.

Artinya, meskipun dapat membantu dalam mensintesis informasi, mengedit, dan menginformasikan karya jurnalistik, Murgia yakin AI generatif seperti yang kita lihat sekarang tidak dapat mengambil alih peran jurnalis manusia. Sebab, AI generatif seperti ChatGPT tidak mampu memenuhi standar tulisan analisis mendalam atau tentang topik yang sedang berkembang layaknya karya-karya jurnalistik yang dihasilkan manusia.

“(AI generatif) itu tidak orisinal, tidak menghasilkan sesuatu yang baru karena hanya berdasarkan informasi yang ada. Jadi dia tidak memiliki kemampuan analitik atau menyatakan sesuatu,” kata Murgia.

Namun Murgia menambahkan, bukan berarti AI generatif tidak dapat menjadi lebih unggul seiring perkembangan teknologi yang mendasarinya. Ia menegaskan, jurnalis sebaiknya optimis tentang karya asli manusia dan meyakini bahwa tidak ada yang dapat menggantikan kita. “Saya sangat percaya bahwa, (AI generatif) tidak kreatif, tidak orisinal, atau menghasilkan sesuatu yang baru dengan cara apa pun. Hanya saja, mereka mampu meniru kerja manusia dengan cukup baik.”

Penulis: Artika Rachmi Farmita, untuk IIJ. Editor: Umar Idris

Sumber: Reuters Institute, The Guardian, IJNet